SELAMAT DATANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Minggu, 15 Januari 2012

PEMBICARAAN DAN PANGGILAN YANG MENYENANGKAN (SUAMI ISTRI)

PEMBICARAAN DAN PANGGILAN YANG MENYENANGKAN
(SUAMI ISTRI)

Berbicara dengan orang lain adalah seni yang membutuhkan kepekaan perasaan dan teknis khusus. Lawan bicara akan tertarik atau lari banyak ditentukan oleh bagaimana kita mampu menyuguhkan pembicaraan yang enak dan berkesan.
Islam telah meletakan beberapa patokan yang mesti diikuti oleh ummatnya dalam masalah ini, khususnya para suami, agar dapat mewujudkan kebahagiaan mereka lebih sempurna.
 
Patokan-patokan itu antara lain:

a.    Kata-kata yang Baik
Seorang suami bila berbicara dengan istrinya harus menggunakan kata-kata baik dan ungkapan yang menarik
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم والكلمة الطيبة صدقة
Rosulullah SAW bersabda: “kata-kata yang baik itu adalah sedekah”. Mutaffaq Alaih

عن عدي بن حاتم رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اتقوا النار ولو بشق تمرة فمن لم يجد فبكلمة طيبة.
Dari Adi bin hatim RA berkata, bersabda Rasulullah SAW “jagalah diri kalian dari api neraka meskipun hanya dengan segenggam kurma. Barang siapa tidak mendapatkannya, maka dengan kata-kata yang baik”.
 
Buah daari perkataan yang baik , akan dijauhkan dari api neraka dan dijadikan ahli surga, sedangkan di dunia akan terasa sebagai suka cita dan perekat jalinan ukhuwah terutama bagi suami istri akan tercita keluarga sakinah mawaddah warohmah.

b.    Ungkapan Penuh Rasa Perhatian
Untuk menjadikan pembicaraan kita enak didengar dan menyenangkan, hendaklah kalimat yang kita ucapkan diiringi dengan sikap yang menjadikan si pendengar merasa diperhatikan.
 
Dari Hind bin Abi Hallah RA, ia berkata mensifati percakapan Rasulullah SAW dengan shahabatnya: “Ia nenberikan bagiannya kepada seluruh pendengar. Ia tidak menimbulkan kesan bahwa seseorang lebih diutamakan dari yang lain”.
 
Hal ini terasakan lantaran sang pembicara menunjukan penghargaan, penghormatan, raut muka gembira, dan kelembutan serta perhatian penuh.
Bukanlah etika terpuji dan bukan pula akhlak Islami, bila suami berbicara dengan istrinya atau  sesorang berbicara dengan orang lain menunjukan sikap tak peduli, congkak, sombong atau memalingkan perhatiannya.
 
c.    Jelas dan Pelan
Pembicaran suami terhadap istrinya seypgyanya dengan jelas, pelan mudah diterima dan suara lembut tapi mudah didengar. Janganlah berbicara dengan berteriak-teriak dan sebaliknya janganlah pula berbicara terlalu pelansehingga sulit didengar
.
Dari Aisyah RA, berkata: “adalah pembicaraan rasulullah SAW jelas dan pelan hingga pahamlah semua orang yang mendengarnya” Abu Daud (Hasan)

d.    Memanggil dengan Nama Kesukaan
Dianjurkan bagi para suami, apabila memanggil istrinya hendaklah menggunakan panggilan yang paling disukai istri. Hal ini perupakan ungkapan kasih sayang dan penguat jalinan cinta.
 
Allah SWT Berfirman : 
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri* dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman** dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.(QS. Ah Hujurat : 11)


* Jangan mencela dirimu sendiri Maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
** Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Dari Handzalah bin Huzaim RA berkata: “Sesungguhnya Rasul SAW merasa takjub terhadap seseorang yang memanggilnya dengan nama dan julukan yang paling ia sukai”. Al jamius Shaghir (hasan)
Dari nash diatas sama sekali tak dibenarkan memanggil istri dengan panggilan yang menyebalkan dan melukai hati. Hal ini akan menjadi peretak keharmonisan dan kebahagiaan sebuah keluarga
e.    Memanggil dengan Manja
Seorang suami apabila memanggil istrinya hendaklah dengan panggilan manja. Hal itu akan menumbuhkan rasa cinta dan hormat, melukiskan rasa senang dan bahagia serta mendendangkan kemerduan pada pendengarnya. Sikap manja adalah bagian dari hiburan yang menyenangkan yang dibenarkan Islam. Sebagaimana bimbingan Rasulullah SAW dalam memanjakan istrinya. Beliau selalu memanggil Aisyah dengan suara lembut dan halus, yang tujuannya untuk memanjakannya.

Dari Aisyah RA berkata : “bersabda Rasulullah SAW suatu hari :”Wahai Aisy (yang hidup), Jibril menyampaikan salam untukmu” saya jawab:”Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh, engkau melihat apa-apa yang tidak bisa aku lihat”. Maksudnya adalah Rasulullah SAW. HR Bukhori

Inilah seberkas cahaya hidayah Rasul SAW dalam menggauli istri. Para suami perlu mawas diri dan berlatih, sehingga hal itu menjadi perangai. Dengan demikian akan runtuhlah tembok pembatas, akan terjalin sikap saling terbuka, serta akan tumbuh terus benih2 cinta diantara keduanya dan pasti akan terwujudnya keluarga sakinah mawaddah warohmah (keluarga yang tentram penuh rasa cinta dan kasih sayang).

Tidak ada komentar: